Bullying atau penindasan terhadap anak sering kali dilakukan di lingkungan sekolah. Padahal sekolah merupakan tempat untuk belajar, menuntut ilmu dan juga cita-cita. Seorang anak yang menjadi korban bullying, biasanya akan mengalami trauma dan takut bertemu dengan teman-teman di sekolah. Hal ini mulai ditakuti oleh para orang tua murid TK Kelapa Gading.
Bullying adalah tindakan penindasan, kekerasan, ancaman atau paksaan terhadapa orang lain, yang menyebabkan korbannya jadi malas, takut dan selalu terintimidasi di sekolah. Perilaku bullying ini biasanya melibatkan kesenjangan kekuatan fisik, ekonomi dan sosial antar siswanya.
Para Orang Tua maupun Guru di TK Kelapa Gading telah menyadari hal tersebut, dan menurut mereka ada beberapa penyebab terjadinya Bullying di lingkungan sekolah. Berikut penyebab terjadinya bullying dan cara menolong anak yang menjadi korban bullying di sekolah:
Penyebab Terjadinya Bullying
1. Pernah Jadi Korban Kekerasan di Rumah
Terjadinya bullying bisa disebabkan karena pelaku pernah menjadi korban kekerasan di rumah. Jika seorang anak menyaksikan perkelahian orang tuanya, dan mendapatkan perilaku kekerasan oleh orang tuanya, maka anak akan berisiko melakukan bullying kepada temannya di sekolah. Para orang tua di Kelapa Gading yang telah menyadari hal ini, mereka memastikan agar anak mereka yang masih bersekolah di TK tidak pernah melihat pertengakaran apalagi melakukan kekerasan di lingkungan rumah.
2. Tidak Percaya Diri
Seorang anak bisa melakukan bullying jika ia tidak percaya dengan dirinya sendiri. Hal ini dilakukan untuk menutupi kekurangan yang ada di dalam dirinya, sehingga bullying akan terjadi untuk menindas teman di sekolah yang memiliki kelebihan, namun kelebihan tersebut tidak dimiliki pelaku bullying.
3. Terlalu Dibebaskan Orang Tua
Ada sebagian orang yang terlalu bebas mendidik anaknya, dan selalu mengizinkan anaknya melakukan segala hal yang membuatnya senang. Perilaku orang tua ini disebut dengan pola asuh permisif. Anak akan merasa bebas melakukan apapun tanpa merasa bersalah. Disinilah peran guru di tuntut, karenanya para orang tua di Kelapa Gading sudah banyak yang menyekolahkan anak mereka sejak usia dini (PAUD maupun TK) agar anak bisa selalu di kontrol walaupun mereka sibuk bekerja.
4. Ingin Menjadi Populer
Sering kali di sekolah terjadi kesenjangan sosial, yang menyebabkan seorang anak ingin terlihat lebih populer daripada siswa lainnya. Dengan melakukan bullying, anak tersebut akan dikenal semua siswa di sekolah tersebut, sehingga keinginannya untuk menjadi populer dan berkuasa akan terpenuhi.
5. Tidak Memiliki Rasa Empati
Sejak usia dini anak – anak di TK Kelapa Gading, sudah dibekali rasa empati terhadap sesamanya, untuk menghindari perilaku bullying dan membuat anak belajar menghargai perasaan orang lain. Tidak memiliki rasa empati bisa menyebabkan terjadinya bullying. Karena dengan melakukan bullying, pelaku akan merasa perbuatannya ini hanya bercandaan, padahal korbannya merasa kesakitan.
6. Kurang Perhatian di Rumah
Memiliki orang tua yang sangat sibuk, membuat seorang anak merasa kesepian dan kurang perhatian. Untuk mendapatkan perhatian lebih, anak tersebut akan melakukan perilaku bullying. Semakin dimarahin oleh guru, pelaku akan merasa senang karena merasa mendapatkan perhatian.
7. Senang Mengejek Orang Lain
Penyebab terjadinya bullying yang terakhir, yaitu karena senang mengejek orang lain. Perilaku yang awalnya dianggap bercanda, ternyata mengejek orang lain bisa menyakiti hati korban bullying dan menyebabkan trauma. Ejekan tersebut biasanya menyangkut ekonomi, ras, fisik, kemampuan dan gaya hidup teman di sekolahnya yang berbeda dengan pelaku bullying.
Mungkin kasus bullying di Indonesia tidak sekstrem di luar negeri karena kita memiliki nilai budaya yang kuat. Tapi tetap saja, memberikan pemahaman ke anak tentang tindak kekerasan perlu disikapi. Caranya, misalnya dengan mengawasi anak saat menonton televisi atau berkomunikasi dengan guru mereka di sekolah. Pentingnya pengawasan anak sedari TK sudah disadari oleh para orang tua di Kelapa Gading. Begitu pula dengan pemilihan sekolah, mereka tentunya lebih menyadari pilihan menyekolahkan anak mereka di TK berstandart internasional seperti Pingu’s English



